Sebuah kamar dalam rumah
Tempat tidur. sudah pukul 12 tengah hari. di luar sepi. hanya ada anak-anak banyak bermain.
..Ni ! Ni ! Dimana engkau ?"
,,Ya, ada apa Has ?" tanya Rini
,,biar, biar saja. kesal benar seperti ini ! Kalau begini biar mati saja !"
,,Ah, engkau main-main."
,,Siapa bilang main-main. Ndak. Saya mau mati saja kalau begini."
,,Tidak Has ! Engkau ada-ada saja."
,, Apa tidak. Ndak, saya mau mati saja. Siapa yang larang saya mati. Itulah engkau."
,,Mengapa aku ?"
,,Itulah mau juga kawin dengan aku. Apa kataku dulu. Tidak akan mungkin senang kataku. Engkau tidak juga percaya. Nah, sekarang ? Melihat aku saja kemari tak mau engkau lagi. Sudah bosan. Itula, itulah !"
,, Ah, kalau hanya karena itu engkau tidak usah mati."
,, Habis, apa lagi kerja yang lain kalau bukan mati ?"
Rini keluar. Dia pergi ke dapur kembali. Kalau Hasnan sudah begitu, biarkan saja dulu. Ia tidak akan juga akan mati. Nanti dia baik lagi. Memang, sudah sifat laki-laki.
Hasnan meregut sedikit. Rini marah, katanya. Tetapi nanti dia tentu baik lagi. Hasnan telah tiga hari begitu, maksud saya bukan telah tiga hari ia berteriak-teriak. tetapi telah tiga hari ia tidak bangkit-bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak sakit. Tetapi buat apa dia bangun. Mencari uang ia juga tidak akan dapat. Tukang-tukang catut keparat itu pintar-pintar benar. da-ada saja akalnya.sekarang siapa orang yang mau membeli karanganya. Tempat memuatnya tidak ada. koran-koran harian tak mau ia. tidak ada yang perlu karangan-karangan sekarang. Siapa yang akan membacanya. Orang Indonesia ? ya. tetapi orang-orang Indonesia tidak perlu cerita-cerita sekarang ! perutnya lebih perlu. Kalau begini juga terus, susah ini. Kadng-kadang betu-betul ia mau mati rasanya. Tebal benar perasaan Rini itu. Biarpun tidak diberi uang dia tidak juga mengomel. Ah, ya, kadang-kadang ada juga orang yang baik. Rupanya Rii betu-betul sayang kepadanya. Kan ada ia melarang Hasnan tadi supaya jangan mati. Ah, ya, dibiarkanya saja Rini keluar masuk kamar. Sibuk kelihatanya. Sebentar-sebentar ia dipanggil Sanah. Apa lagi itu. Mengganggu orang laki-bini. Perempuan ini mulutnya tidak mau diam. Tetapi tidak usah dia peduli. Lagi, apa yang ia perdulikan. Berpikir saja ia tidak mau. Sudah cukup banyak isi otaknya. Tapi senang juga ia melihat ruoa Rini. Rini periang dan kadang-kadang termanja-manja sedikit.
Malam hari Rini duduk didekatnya. Ia berbaring menelungkup. Diperhatikanya Rini sedang menjahit.
,,Kemana siang tadi Ni ?"
,, Ke sebelah."
,,Mengapa ?, Mengobrol-ngobrol saja ?"
,, Hn, hn !"
,, Apa ceritanya Ni ?"
,, Katanya, ada orang yang mau menerbitkan majalah, Has. Dan katanya lagi, orang yang akan menerbitkan itu mencari engkau. Engkau tentu dapat bekerja lagi, Has. Dapat mencari uang lagi. Nanti kita pergi menonto lagi, ya ? Alangkah.......
,,Betul, Ni ?apabila ?"
,,Barang kali, sebulan lagi."
,, Oo,..... ya, coba-cobalah."
,, Mengapa Has, engkau bukankah tidak sakit?. Engkau sehat kelihatanya. Hanya, beristirahatlah sedikit. Sudah sepatutnya!"
,,Betul, Ni, saya harus beristirahat ? siapa yang bilang ?"
,,ya, ada temanku. Suaminya juga harus beristirahat kata dokter. Saya ligat kerjanya sama beratnya dengan engkau."
Diam. Hasna meemperhatikan buatan Rini.
,,Engkau menjahit, Ni ?"
,,Hn, hn !"
,,Engkau sayang kepadaku Ni?"
,,Hn, hn ! O, ya Has, saya mengambil karangan-karanganmu dibawah tempat tidur ini tadi. kau lemparka-lemparkan saja begitu. barang kali kau tidak tau bagus-bagus isinya. Saya simpan tadi. Akan saya ambilkan ? Nanti saya bacakan !"
,,Biar saya saj yang membacanya, Ni."
,,Jangan nanti sakit matamu. Tidak boleh membaca di tempat tidur !"
,,O, ya ? O, ya, ya, maksud saya...maksud saya, saya lupa. Jangan saja ambilkan. Susah-susah benar engkau. Engkau sedang menjahit."
,,Has, bagaimana keadaan politik sekarang ? Adakah menguntungkn buat kita ?"
,,Saya tidak tahu."
Rini merasa, bahwa suaminya tidak suka mempercakapkan sol politik.Sehinnga ia mengalih buah percakapan,
,,O, ya Has, Taib yang di sebelah ini mengundng kita besok pagi makan-makan ke rumahnya !"
,,Buat apa engkau pergi ke rumah tukang catut itu ?"
Sendat pula. Tidak beleh bercerita tentang mencatut di depan Hasnan. Diam. Hasnan memandang kepada tangan Rini yang bergerak dengan cepat menjahit kain yang ada dipangkuannya itu.
,,Engkau ada melihat-lihat bunga yang kutanam duli, Has. Cantik-cantik bukan ?"
,, Aku tidak dapat membedakan mana yang cantik sekarang mana yang tidak. Sam saj warnanya kelihatan padaku. ni, panas hari ini."
,,mau minum, Has ? nanti kubuatkan air jeruk segelas. Jerukku masih ada. Lebih-lebih yang kubeli tadi."
,,Tidak, Ni. Air dingin saja. Tidak usah air jeruk. Nanti habis gulamu.
,,A, masih banyak. Engkau harus minum air jeruk. Suaramu agak parau kedengarannya."
,,Na, ini. Gorengan pisang dan air jerk. Enak Has. Kubuatkan tadi buat engkau, tapi engkau sedang tidur."
,,Engkau yang membuat, Ni? Buat aku?"
,,Hn, hm !"
,,Baik benar. Cuma, suaraku ...aku batuk ...e, e ... maksudku ...hm ... e enak benar. Ya, ya, enak benar. Bajumu yang dahulu mana, Ni ? Sudah engkau jahit ?"
,,Sudah !"
,,Mana lihat aku!, modelnya bagaimana Ni ? yang pakai rok lebar ? yang kelihatan ketiaknya lagi ?
,,Ah, engkau. Bagaimana pendapatmu Has ? Lihatlah, lihat sulamnya. Sulamnya lihat. Hijau dan hijau muda."
Otak Hasnan buntu sekarang. Memang ia tidak tahu membedakan indah dan cantik.
,,Warna itu kuambil buat engkau. Kukira engkau warna hijau. Kalau engkau tidak suka, kubuka kembali. Tetapi bukankah engkau setuju dengan warna ini."
,,Hn ? O, tentu, tentu. Tentu aku setuju. Bagus, bagus betul. Di mana engkau dapat itu, berapa belinya?"
,,Murah ini, Masih ingatkah engkau waktu engkau menjemput aku dahulu? Akupun berbaju hijau waktu itu. Ah, tentu engkau masih ingat. Masih ingat kan Has ? Aku tidak pernah lupa."
,,Ya, masih ingat. Waktu itu engkau memakai pita merah di rambutmu bukan ?"
,,Putih maksudmu ?"
,,Ya, putih, putih. Memang putih maksudku. Apa kataku tadi ?"
,,Merah. Siapa yang memakai pita merah ?"
,,Merah ? O, saputangan dalam kantongku yang berwana merah. Tidak ada gadis berpita merah yang kukenal, Ni !"
,,Ya ?"
,,Mungkinkah aku jadi redaktur majalah yang engkau tadi ? Pikiranku sekarang sudah buntu betul. Aku tidak pandai lagi mengarang. Sajak-sajakku mati. Ah, aku ini."
,,Tentu saja mungkin. Tadi aku baca karangan-karanganmu. Masih ingat engkau apa yang kukatakan.\ ? Bagus-bagus karangan itu. Dan sajakmu yang engkau bacakan dahulu, di dalam kebun itu, bagus benar. Bagus benar Has. Aku tidak pernah lupa. Waktu itu e...engkau.... Banyak anak-anak nakal waktu itu, ya Has ! Mereka berteriak-teriak. nanti kalau ada anak kita, tidak akan kubiarkan senakal itu."
Diam
..Nanti kita beli baju lagi, Ni. aku dapat uang nanti. Engkau harum benar malam ini, pakai apa ? Coba cium."
,,Ai, ai, mengapa engkau ini."
,,Pakai minyak harum engkau ?"
,,Hn, hn."
,,Ni."
,,Ya."
,,Yok, kita tidur saja."
Lampu telah padam. Gelap dan sunyi dalam kamar itu. Di luar masih terdengar bunyi telapak kuda delman berlari.
,,Ni, dari mana engku dapat uang buat makan ?"
,,o.... Saya mencoba-coba berdagang denagn Taib."
,,Engkau mencatut ? O, baik mencatut."
PAGI-PAGI hari matahari masuk kamar melaui celah-celah jendela. Hasnan dibangunkan Rini. Ia terus ke kamar mandi, Rini pergi ke sebelah menceritakan kepada Sanah, bahwa suaminya telah bangkit dari temapat tidur.
Sedang minum kopi Hasnan berkata :
,,Engkau perlu apa Ni ? Pakaian ?"
,,Mengapa begitu ?"
,,nanti kita beli. Sekarang saya mau mencari kerja."
,,Bekerja sama siapa ?"
,,Tiada peduli sama siapa ."
Hasnan keluar dengan sebuah buku ditangan. Sekarang ia mau mencari kerja. Ada harapan ia akan duduk membunu-bunuh dri dan mengering-ngeringkan sumber-hidupnya dibelakang meja tulis dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Aksi-polisionil yang sedang berjalan mungkin merubah jalan kehidupannya. Ia mungkin sampai ke jalan buntu. Hasnan mengtakan "orang kacau balau". Tiap-tiap orang bermain sesuka hatinya. Bagaimana orang biasa akan dapat itu bermain ? Segala mereka yang telah dirusakkan bermaam-macam kepentingan tidak lagi mempuyai peraturan permainan yang satu. Apakah antara ia dan Rini ada semacam kacau-balau ? Apakah Rini dapat mengerti Hasnan dan Hasnan sebaliknya, sehingga ada sudut tempat bertemu ? Tetapi Rini berbicara tadi malam sebagai manusia biasa. Segala tekanan-tekanan yang ditemuinya dalam tiga hari ini, hilang perlahan-lahan seperti embun kena panas sinar matahari.
Pagi baik benar. Hasnan berjalan perlahan-lahan. Ia ingin melihat apa yang ada di tengah orang ramai. "tidak ada apa-apa" katanya. Tiba-tiba ia merasa bahwa ia yang paling tidak berguna di tempat ini. Seolah-olah ia datang dari jauh dan sekarang ini ia menjadi orang baru disini. Mengapa selama ini ia merasa berada di luar manusia-manusia yang ada di sekelilingnya ? Ah, ian ingin menjadi orang biasa. Seperti malam tadi. Rini agak kemanja-manjaan sedikit, tetapi tidak ada timbul suara dalam hatinya, yang mengtakan, bahwa Rini teranja-anja. Tidak ada yang berat sebelah.
Hari semakin tinggi. Hasnan meklewati beberapa kantor Belanda. Tiap-tiap di muka kantor itu ia berhenti dan memandang dengan nanap kesana. Hasnan orang Indonesia dan ia berpikir :"Ini bikan tempatku." Ia berjalan juga. Anak kecil penjual koran berteriak-teriak :"Republik di UNO ! Republik di UBO."
Dia berhenti dan memandang anak-anak itu. Anak itu menyangka Hasnan mata-mata lalu mengundurkan diri. Ia seorang diri berdiri memandang ke kantor yang ada di depannya. Ia merasa terhentak. Mula-mula ia hendak bebas dari segala-glanya, dari kacau-balau yang ada disekelilingnya. Ia ingin menjadi manusia biasa. Tetapi sekarang ia tidak lagi tahu bagaimana caranya menjadi manusia biasa itu. Ia ttidak tahu apa arti kata bebas. Banyak pengertian bebas sekarang.
Hasnan memandang ke kantor itu. mulutny tersenyum dan hatinya berkata :"Aku tidak mau masuk." Kemudian ia berjalan cepat-cepat arah ke Senen dan dijualnya buku yang dibawanya tadi.
Waktu dilihatnya Rini Hasna pulang, ia berkata :
,,Bagaimana, Has ?"
,,Katanya Republik mau menang lagi Ni! Tidak jadi."
,,Betul ?"
,,Ada air jeruk Ni." Sata haus. Nanti malam nonton ! Ini ada uang. Engkau ikut, kan ? Ikut, kan?"
,,Tentu !"
,,Bajunya yang mana ? Yang hijau-hijau putih ?"
,,Hn, hn,"
jawab Rini sambil tersenyum.
,,Ya, boleh. Betul !" kata Hasnan, seperti orang tua sedang memberi izin.
Hasnan mengisap rokoknya dan memandang asap rokok yang dihembuskanya ke udara.
,,Ah, biarlah asap itu pergi," katanya dengan lega.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar